KLOP:
CARA PUTU WIJAYA MENGKRITIK MASYARAKAT
Sebagai seorang
penulis Putu Wijaya selalu menampilkan sebuah potret sebuah realitas masyarakat
secara tajam. Dengan menggunakana bahasa keseharian yang mudah dimengerti
membuat setiap karyanya selalu enak untuk disimak Walau kadang menggunakan
bahasa simbol, tetap saja bisa kita tangkap arti dan makna apa yang ingin ia
sampaikan, karena simbol yang ia gunakan adalah simbol sederhana yang tidak
jauh dari masyarakat.
‘Klop’,salah satu karyanya, merupakan kumpulan cerpen yang sarat akan cerita-cerita menggelitik. Bahasanya tetap segar, tajam dan selalu tidak lepas dari cerita keseharian masyarakat yang kadang luput dari perhatian kita. Oleh Putu Wijaya kisah-kisah itu ia kemas menjadi sebuah cerita yang menarik.Melalui‘Klop’ Putu Wijaya mengkritik kita sebagai bagian dari masyarakat yang memang sedang sakit. Seperti cerpen-cerpen Putu yang lain,kisah dalam ‘Klop’terbungkus bahasa hiperbolik tapi dengan kemasancerdas.Kisah-kisahnya seperti sebuah ilusi, tapi itulah gambaran sebenarnya masyarakat kita.
Pada cerpen ‘Mayat’ misalnya, Putu Wijaya menggambarkan kisah keluh kesah seorang mayat yang merasa menjadi korban sebuah ketidakadilan. Mayat itu bersumpah serapah dan berkeluh kesah, kenapa ia yang harus menanggung beban sementara banyak pihak yang berusaha mengambil keuntungan atas dirinya. Mayat itu merasa apa yang dialaminya telah dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan, sementara ia hanya menjadi obyek saja. Dalam kisah ini Putu menampilkan karakter seorangpenjaga malam sebagai pembanding.
Kemudian ada terjadi dialog diantara mereka.Penjaga malam yang sudah merasa menjadi ‘barang’ dan tidak mempunyai apa-apa lagi seolah mengkritik kita bahwa nilai kemanusiaan sudah tidak ada lagi dalam diri masyarakat kita. Otak tidak, hati tidak bahkan kemaluan pun ia sudah tidak punya. Masyarakat yang sudah terreduksi nilai kemanusiaanhendak ia tampilkan ketika membaca cerpen ini. Masyarakat kita sekarang hanya terpola dengan sebuah sistem yang ia sendiri tidak mengerti apa peran mereka dalam sistem tersebut..
Kisah kisah seperti itulah yang menjadi topik utama dalam ‘Klop’.Masih banyak kisah kisah menggelitik lain tersaji disini, utamanya kisah yang berbau kritik social kemasyarakatan. Keseluruhannya dikemas dalam bahasa yang mudah dicerna tapi mengena. Kisah-kisah masyarakat Indonesia, utamanya masyarakat Jawa, dengan segala tetek bengeknya terasa sangat kental dari seorang Bali. Putu memang lebih ‘nJawani’ dari orang Jawa itu sendiri, paling tidak dari karya-karyanya.
Untuk para pecinta cerpen,‘Klop’ memang bukan sebuah cerpen yang dibaca dengan harus mengernyitkan dahi. Tapi kisah-kisah di dalamnya membawa kita untuk lebih dalam lagi melihat masyarakat dengan segala dinamikanya secara segar. Kisah-kisah yang termuat dalam ‘Klop” ada dalam masyarakat kita. Dan Putu Wijaya berhasil memotret kisah itu menjadi sebuah cerita yang enak dibaca dan perlu.
‘Klop’,salah satu karyanya, merupakan kumpulan cerpen yang sarat akan cerita-cerita menggelitik. Bahasanya tetap segar, tajam dan selalu tidak lepas dari cerita keseharian masyarakat yang kadang luput dari perhatian kita. Oleh Putu Wijaya kisah-kisah itu ia kemas menjadi sebuah cerita yang menarik.Melalui‘Klop’ Putu Wijaya mengkritik kita sebagai bagian dari masyarakat yang memang sedang sakit. Seperti cerpen-cerpen Putu yang lain,kisah dalam ‘Klop’terbungkus bahasa hiperbolik tapi dengan kemasancerdas.Kisah-kisahnya seperti sebuah ilusi, tapi itulah gambaran sebenarnya masyarakat kita.
Pada cerpen ‘Mayat’ misalnya, Putu Wijaya menggambarkan kisah keluh kesah seorang mayat yang merasa menjadi korban sebuah ketidakadilan. Mayat itu bersumpah serapah dan berkeluh kesah, kenapa ia yang harus menanggung beban sementara banyak pihak yang berusaha mengambil keuntungan atas dirinya. Mayat itu merasa apa yang dialaminya telah dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan, sementara ia hanya menjadi obyek saja. Dalam kisah ini Putu menampilkan karakter seorangpenjaga malam sebagai pembanding.
Kemudian ada terjadi dialog diantara mereka.Penjaga malam yang sudah merasa menjadi ‘barang’ dan tidak mempunyai apa-apa lagi seolah mengkritik kita bahwa nilai kemanusiaan sudah tidak ada lagi dalam diri masyarakat kita. Otak tidak, hati tidak bahkan kemaluan pun ia sudah tidak punya. Masyarakat yang sudah terreduksi nilai kemanusiaanhendak ia tampilkan ketika membaca cerpen ini. Masyarakat kita sekarang hanya terpola dengan sebuah sistem yang ia sendiri tidak mengerti apa peran mereka dalam sistem tersebut..
Kisah kisah seperti itulah yang menjadi topik utama dalam ‘Klop’.Masih banyak kisah kisah menggelitik lain tersaji disini, utamanya kisah yang berbau kritik social kemasyarakatan. Keseluruhannya dikemas dalam bahasa yang mudah dicerna tapi mengena. Kisah-kisah masyarakat Indonesia, utamanya masyarakat Jawa, dengan segala tetek bengeknya terasa sangat kental dari seorang Bali. Putu memang lebih ‘nJawani’ dari orang Jawa itu sendiri, paling tidak dari karya-karyanya.
Untuk para pecinta cerpen,‘Klop’ memang bukan sebuah cerpen yang dibaca dengan harus mengernyitkan dahi. Tapi kisah-kisah di dalamnya membawa kita untuk lebih dalam lagi melihat masyarakat dengan segala dinamikanya secara segar. Kisah-kisah yang termuat dalam ‘Klop” ada dalam masyarakat kita. Dan Putu Wijaya berhasil memotret kisah itu menjadi sebuah cerita yang enak dibaca dan perlu.
Komentar
Posting Komentar